Skip to main content

WARNING: LONG PARAGRAPHS
Terima kasih untuk anda yang sudah membaca post saya yang berisi dua paragraf yang panjang ini.

    Saya ada mega spekulasi tentang terbentuknya alam semesta dan tertiadakannya alam semesta secara siklik, dan bagaimana awalnya ada. Tentang terbentuknya dan tertiadakannya itu karena interaksi ketiadaan dengan keadaaan. Sementara terbentuknya alam semesta yangmana saya percayai berasal dari bingbang itu sejatinya diawali dari konsentrasi ketiadaan yang memuncak ke titik maksimalnya sehingga ketiadaan mengeluarkan kebalikan/counter dari dirinya sendiri yaitu keadaan. Di spekulasi saya juga terdapat hal-hal yang bisa dikembangkan tentang beberapa hal yang cukup eksak di dunia ini, seperti palet warna, keseimbangan kolektif, skala normal, dan hukum fisika. Keberadaan dan sifat 'waktu' serta kebenaran 'yang sejati dan murni objektif universal' juga ada di spekulasi saya. Mega spekulasi saya juga menjelaskan siklus hidup dari hal yang 'fisik' dan 'non-fisik' dimana semuanya itu diwakilkan oleh sesuatu yang saya sebut 'tanda (label/mark)'. Tuhan dalam mega spekulasi saya bisa dianggap tidak ada atau ada tergantung organisme yang mengganggapnya sendiri. Jika ada, tuhan yang dimaksud dalam spekulasi saya adalah kesatuan alam semesta ini sendiri (kesatuan alam semesta = tuhan = keadaan = tanda utama). Jadi tuhan bersifat otomatis dan dapat tiada jika dia sudah mencapai titik maksimalnya yangmana akan memunculkan ketiadaan. Sedangkan terbentuknya 'tanda' itu karena interaksi antara ketiadaan dan keadaan. Di spekulasi saya, ketiadaan berada di luar keadaan (luar dunia semesta ini). Pengembangan dan pengempisan ketiadaan serta pengembangan dan pengempisan keadaan itu ada dan bersifat 'imajiner' (bukan 'fisik' bukan juga 'non-fisik' walaupun sangat jelas mirip sifat 'non-fisik') dan saling berinteraksi terus-menerus sampai siklusnya berhenti (dunia ada lalu tiada lalu ada lagi dan tiada lagi dan seterusnya). Setiap bagian terkecil dari atom (hal 'fisik') seperti elektron maupun yang lebih kecil lagi itu ada 'tanda'nya, begitu pula dengan hal yang 'non-fisik' seperti pergerakan sebuah atom dari posisi a ke posisi b, bahkan hal 'non-fisik' yang besar seperti kebahagiaan. 'tanda' dari hal 'fisik' juga dapat dianggap diwakilkan oleh suatu 'tanda', dimana dimisalkan sebuah gunung yang tersusun atas banyak atom dapat diwakilkan oleh 1 'tanda' misalnya xax100000003. Oleh karena itu di spekulasi saya, semua isi dari dunia ini adalah 'tanda' (label 'imajiner' untuk semua hal 'fisik' maupun 'non-fisik'). Jadi ada dua aktivitas besar dalam hal ini tentang pergerakan 'tanda' yaitu jika misalnya sebuah janin terbentuk, dia terbentuk dari sel sperma dan sel telur, masing-masing sel sperma dan sel telur itu bisa tersusun dari jutaan ‘tanda’ maupun dua ‘tanda’, misal xexa dan xexb saja, lalu saat telah bergabung jadi janin ‘tanda’ itu berubah jadi xexab, tanda xexa dan xexb keluar dari dunia ini sehingga menjadi tidak ada di ketiadaan, jika kedua tanda tersebut masih ada, bisa saja menjadi pengganti hal ‘fisik’ maupun ‘non-fisik’ lain di manapun di dalam dunia/alam semesta/keadaan. Aktivitas kedua ialah terjadikannya ‘tanda’ dimana misalnya jika belum ada ‘tanda’ misalnya ‘tanda’ xui991000008 di dunia ini, maka interaksi antara keadaan dan ketiadaan menjadikan ‘tanda’ tersebut ada sebagai ‘tanda’ hal ‘fisik’ maupun hal ‘non-fisik’ yang ada di ujung terluar keadaan/alam semesta. Begitu pula jika sebuah ‘tanda’ sudah tidak dibutuhkan di dunia, ia akan dihilangkan ke ketiadaan. Terkait dengan hidup manusia yang merupakan kesadaran tubuh (dianggap orang tertentu ‘roh’), dengan mega spekulasi ini saya mempercayai bahwa kesadaran tubuh yang diwakilkan suatu ‘tanda’ tertentu, akan menjadi non aktif (masih di dunia ini) atau bisa juga hilang dari dunia ini. Jika ‘tanda’ untuk hal ‘non-fisik’ non aktif maka hal ‘non-fisik’ itu tidak dapat ditemukan di dunia ini namun masih ada di dunia ini. Namun jika ‘tanda’ untuk hal ‘fisik’ non aktif maka hal ‘fisik’ secara identik itu tidak dapat ditemukan di dunia ini karena hal ‘fisik’ menjadi tersatukan dalam ‘tanda’ lain atau terpisah menjadi beberapa ‘tanda’ lain. Kembali lagi ke ‘tanda’ dari kesadaran tubuh manusia, jika ‘tanda’ tersebut hilang baik sesingkat mungkin maupun dalam waktu yang permanen maupun waktu lama, maka kesadaran tubuh yang sama tidak akan terjaga keadaannya, dalam kata lain, manusia yang sama dengan sebelumnya tidak lanjut hidup di dunia secara identik. Di spekulasi ini, saya percaya manusia akan direinkarnasikan secara otomatis oleh mekanisme dunia ini yangmana dikendalikan oleh ‘tanda utama’ (kesatuan dunia ini/tuhan/keadaan). Cara keadaan itu ‘menghidupkan kembali’ (mengaktifkan ‘tanda’ dari kesadaran tubuh) suatu manusia bisa dengan dua cara yangmana spekulasi ini masih dapat dikembangkan. Cara pertama dengan menyatukan semua ‘tanda’ berkategori yang disyaratkan untuk mengaktifkan ‘tanda’ manusia tersebut, dengan ini, keadaan secara otomatis mencegah adanya kesamaan kategori ‘tanda’ untuk mengaktifkan ‘tanda’ kesadaran tubuh masing-masing organisme mati yang ada di dunia ini. Misalnya untuk menghidupkan kembali manusia a (memiliki ‘tanda’ kesadaran tubuh ru123109), diperlukan ‘tanda’ r190001 (sel sperma) dan u1300001923 (sel telur), maka keadaan (‘tanda utama’) secara otomatis tidak memungkinkan adanya  kedua ‘tanda’ tersebut di lokasi lain di dunia sehingga kesadaran tubuh ru123109 tidak menjadi ganda. Cara kedua dengan meniadakan ‘tanda’ kesadaran tubuh ru123109 (dibuang ke ketiadaan (di luar keadaan)) selama beberapa waktu lalu menjadikan adanya ‘tanda’ tersebut lagi saat kesadaran tubuh organisme baru yang belum memiliki ‘tanda’ ada. Ada juga cara lain dimana ‘tanda’ kesadaran tubuh manusia tersebut dinonaktifkan sementara (bisa mendekati 0 detik sampai misalnya 100 triliun tahun), lalu diaktifkan untuk menjadi ‘tanda’ kesadaran tubuh organisme tertentu. Kemungkinan cara lain juga masih bisa dipikirkan terkait hal ini. Selama keadaan masih ‘ada’ maka ‘tanda’ juga pasti harus ada. Dan ‘tanda’ yang ada dari awal, sekarang, akhir, di masa depan, dan di masa lalu adalah ‘tanda utama’ (keadaan/kesatuan seluruh isi dunia ini/tuhan). Terkait mega spekulasi ini, saya juga meragukan eksistensi ‘waktu’ apakah secara benar yang sejati ‘waktu’ itu ada. Selain itu apakah ‘waktu’ sebenarnya mengalami perubahan durasi atau tidak, karena terdapat kemungkinan bahwa ‘waktu’ itu hanya satuan parametrik untuk momen/kejadian yang ‘imanjiner’, sehingga bisa saja ‘waktu’ sekarang, masa depan, masa lalu itu dalam satu kesatuan. Sebaliknya sifat ‘waktu’ bisa saja berperubahan durasi misalnya ‘waktu’ semakin bertambah, ‘waktu’ semakin berkurang (tidak berarti kehidupan berproses/berjalan secara terbalik), ‘waktu’ bertambah 1 detik lalu langsung dikurangi 1 detik sehingga bernilai 0 terus menerus, ‘waktu’ bertambah hingga satuan durasinya mencapai nilai tertentu lalu dikurangi dengan nilai yang sama secara terus-menerus (bersifat siklik dan saat ‘waktu’ dikurangi/’mundur’ tidak berarti kehidupan berproses/berjalan secara terbalik), ‘waktu’ berdurasi 0 terus-menerus, maupun kemungkinan lainnya. Terkait kesadaran manusia, bisa saja kesadaran manusia bekerja secara berpeningkatan dan berpenurunan gradual, dimana maksudnya setelah dilahirkan (‘tanda’ kesadaran manusia ada setelah ditiadakan maupun terbentuk dari ‘tanda’ lain maupun telah diaktifkan lagi), kesadaran manusia berpersentase mendekati 0% secara positif, semakin bertambah usia, kesadaran meningkat terus, misalnya saat umur 1 detik kesadaran sudah 5% dan 10 detik sudah 20%, lalu saat 6 tahun kesadaran sudah 40%. Karena ini saya menduga semakin tinggi persentase kesadaran tubuh, semakin kuat pula ‘perasaan’ tentang skala ‘waktu’. Dalam kata lain semakin kecil persentase kesadaran tubuh, manusia semakin singkat dalam merasakan durasi/satuan waktu. Hal ini juga yang membuat saya menduga bahwa saat kita mengalami tidur tanpa mimpi, kesadaran tubuh kita mendekati 0% sehingga ‘rasa’ akan ‘waktu’ sangat tidak peka dan menjadi terasa sangat singkat. Dan karena hal itu pula, saya menduga kesadaran tubuh hampir/mendekati setelah mati maupun sebelum hidup yang mendekati 0% membuat ‘rasa’ akan ‘waktu’ menjadi sangat singkat, apalagi saat ‘tanda’ kesadaran tubuh dinon aktifkan/dihilangkan sementara/permanen. Maka setelah mati, manusia tidak ‘merasakan’ apapun sebagaimana saat sebelum dilahirkan maupun saat tidur tanpa mimpi. Pada nantinya jika ‘tanda’ kesadaran tubuh diaktifkan kembali maupun diadakan kembali maupun diaktifkan karena terbentuk dari ‘tanda’-‘tanda’ yang lain, kesadaran tubuh akan tidak memungkinkan untuk mengingatkan sama sekali kondisi kesadaran tubuh sebelumnya, sekalipun ‘tanda’ tersebut ada terus-menerus. Bisa saja, setelah seorang manusia dengan ‘tanda’ kesadaran  ru123109 mati, dia akan terlahir kembali (seperti reinkarnasi) menjadi organisme tertentu misalnya paramecium di belahan bumi lain, maupun organisme tertentu di suatu planet di galaksi lain yang jauh dari galaksi bimasakti, dimana ‘waktu’ antara ‘tanda’ kesadaran tubuhnya dinonaktifkan/ditiadakan dari dunia ini hingga diaktifkan/diadakan lagi bisa saja mendekati 0 detik (hampir instan mutlak/absolut) sampai misalnya 400 juta tahun kemudian. Manusia/organisme tersebut tidak merasakan apapun selama ‘tanda’ kesadaran tubuhnya non aktif maupun tiada sampai diadakan lagi, melainkan dia merasa dengan ‘sekejap’ menjadi organisme baru, entah organisme tersebut memiliki memori dan ber’akal budi’ maupun tidak. Hal ini karena seperti yang kita ketahui, organ manusia dan organisme tertentu berupa otak memungkinkan adanya kesadaran tubuh (menjadikan ‘tanda’ kesadaran tubuh organisme tersebut ada di dunia ini), dan organ penting lain yang berhubungan untuk menopang kesadaran tubuh tersebut agar ‘tanda’nya tidak non aktif atau tiada diantaranya jantung (pengalir oksigen ke otak lewat darah) dan paru-paru. Hal ini juga yang saya duga menjadi alasan mengapa kita mulai dapat mengingat sesuatu dan berpikir (atau ‘merasa’ hidup pertama kali) saat umur sekitar 6 tahun dimana otak sudah bekerja dengan baik dan kesadaran tubuh agak tinggi. Sementara saat sebelum 6 tahun, kita memiliki ingatan yang buram/remang-remang atau gelap, yangmana mungkin hal itu disebabkan karena fungsi memori otak yang belum kuat (organ otak belum lama terbentuk) dan bayi berada di dalam rahim ibu yang gelap dari dalam.

    Penggunaan mega spekulasi saya ini terutama dimotivasi oleh kecurigaan dan kemungkinan yang terjadi di dunia ini. Kecurigaan tersebut terkait dengan agama dan kehidupan organisme, dimana apakah organisme lain di luar bumi yang mungkin memiliki kapasitas otak dan kesadaran tubuh lebih tinggi juga mempercayai maupun membuktikan eksistensi tuhan. Kehidupan organisme sendiri memiliki durasi bermacam-macam, misalnya umur manusia dianggap biasanya berdurasi sekitar 85 tahun sementara misalnya serangga mayflies umurnya sekitar 24 jam saja. Apakah kedua organisme tersebut memiliki persepsi akan durasi ‘waktu’ yang sama, atau berbeda. Jika sama, durasi yang singkat dimana hidup 24 jam hanya kemudian mati selama bertriliun-triliun tahun maupun permanen menjadi sebuah penghematan durasi hidup yang terlalu hemat menurut saya. Ada pula hewan berupa ubur-ubur Turritopsis dohrnii yang bisa menjadi dirinya lagi pada saat tubuhnya berfase awal jika dia mendapat kerusakan tubuh maupun stress menjadikan hewan tersebut berpotensi hidup abadi (durasinya bisa lebih lama dari durasi hidup manusia). Selain itu agama-agama di bumi yang saya tahu menjelaskan ketuhanan dari perspektif yang cukup geosentris, sementara volume dunia ini jauh lebih besar dari tata surya. Selain itu konsep ‘kehidupan abadi’ setelah kematian maupun adanya surga dan neraka yang belum bisa dibuktikan serta konsepnya sendiri yang menurut saya tidak komprehensif untuk mewakili hidup menjadikan saya kurang mempercayai konsep ketuhanan menurut agama-agama yang ada di bumi ini sampai akhir-akhir ini, dimana tuhan cenderung bersifat ‘humanoid’ (misalnya menghakimi dan mengatur hidup manusia seperti ‘akal budi’ manusia atau cara manusia berinteraksi kepada manusia dan organisme lain), sementara dalam mega spekulasi saya tuhan adalah ‘keadaan/kesatuan dari seluruh isi dunia ini/’tanda utama’’. Jadi setiap hal baik ‘fisik’ maupun ‘non-fisik’ di dunia ini adalah bagian dari ‘tuhan’. Selain itu ‘kehidupan’ abadi/infinit di neraka maupun surga maupun dimensi atau alam lain yang disebabkan karena konsekuensi dari ‘kehidupan’ berdurasi/finit/mortal di dunia ini adalah hal yang kurang komprehensif terhadap durasi total kehidupan di dunia ini (dari keadaan ada hingga tiada dan seterusnya). Lalu terkait durasi hidup tadi,  ‘waktu’ hidup yang singkat dan ukuran isi dunia yang besar membuat saya mempercayai juga bahwa setelah kematian suatu organisme, kesadaran tubuhnya berubah atau berpindah ke organisme lain yang baru terbentuk, dengan ‘tanda’ yang tetap sama, namun karena hal ini juga, organisme tersebut akan merasakan dirinya baru dan berbeda (murni/pure), walaupun kesadaran tubuhnya sama seperti sebelum dia menjadi organisme baru tersebut. Dengan kata lain, seorang manusia bisa saja merupakan seekor paramecium yangmana merupakan dinosaurus sebelumnya yangmana juga merupakan suatu organisme alien di suatu planet di galaksi lain pada kehidupan sebelumnya, hanya saja dia tidak mengetahuinya dan selalu ‘merasa’ baru setelah ‘tanda’ kesadaran tubuhnya diaktifkan maupun diadakan kembali. Mega spekulasi saya ini mungkin dapat anda anggap berkaitan maupun terinspirasi dari banyak konsep ketuhanan dan kehidupan, seperti ketuhanan dalam agama-agama samawi, ketuhanan dalam agama hindu, kehidupan dalam agama buddha, dan siklus kehidupan nihilisme. Saya sendiri menyusun mega spekulasi ini dari beberapa pemikiran dan opini orang-orang di internet dan beberapa konsep agama-agama dan terutama pemikiran saya sendiri. Saya sendiri lebih mempercayai mega spekulasi saya ini daripada agama-agama yang ada di bumi ini sejauh ini. Spekulasi saya terutama tentang penciptaan dunia/siklus ketiadaan dan keadaan, ‘waktu’, perubahan kode ‘tanda’, kebenaran ‘sejati’, dan sebagainya di dalam mega spekulasi saya masih dapat saya pikirkan lebih dalam dan bisa didukung dengan temuan-temuan terbaru sains selama saya masih hidup sehingga nantinya mega spekulasi tersebut dapat saya revisi dan akan saya anggap mendekati esensi yang merupakan kebenaran ‘sejati’ dari dunia ini. Hal lain seperti beberapa hal cukup eksak di dunia ini seperti palet warna, skala normal, keseimbangan kolektif, hukum fisika dimensi, hal-hal filosofis, maupun hal lainnya pada mega spekulasi saya juga dapat dipikirkan lebih dalam dan dikembangkan. Saya belum dapat menjelaskan secara singkat hal-hal eksak tersebut di tempat ini karena bisa menjadi serangkaian tulisan yang lebih panjang. Saya sendiri juga memiliki satu mega spekulasi lain tentang dunia ini, namun mega spekulasi yang telah saya jelaskan di atas (tidak semua isinya) lebih saya percayai dari mega spekulasi satunya. Saya pun kadang memikirkan mega spekulasi (model esensi kehidupan) lain yang mungkin dapat menjawab ketidaktahuan saya terhadap beberapa hal di dunia ini secara temporer. Mega spekulasi saya ini dapat anda anggap sangat sok tahu, namun saya sampai saat ini lebih terpuaskan olehnya dan lebih mempercayainya daripada agama dan belum adanya penjelasan yang valid atau memadai akan keseluruhan dunia ini. Jika saya diminta untuk menjelaskan mega spekulasi-mega spekulasi saya secara lebih simpel, maka kemungkinan saya akan menggunakan ilustrasi-ilustrasi dalam gambar sebagai alat untuk menjelaskannya.

Comments